Fayakhun: Hindari ‘Capital Flight’ Anggaran Alutsista

JAKARTA- Anggota Komisi I DPR RI (bidang Pertahanan, Luar Negeri) dari Fraksi Partai Golkar, Fayakhun Andriadi, mengingatkan pemerintah agar menghindari terjadinya lagi ‘capital flight’ anggaran Alutsista RI ke luar negeri.

“Berapa pun anggaran untuk alat utama sistem persenjataan (Alutsista) kita naikkan, itu tidak masalah. DPR RI pasti mendukungnya. Tetapi, harus dihindari terjadinya ‘capital flight’ ke luar negeri,” katanya kepada Antara di Jakarta, Kamis (9/6).

Ia mengatakan ini merespons pernyataan Menteri Pertahanan (Menhan) Purnomo Yusgiantoro, bahwa pemerintah mengusulkan anggaran untuk itu Rp80 triliun, tapi mungkin dalam pembahasan dengan Komisi I DPR RI, akan dirasionalisasikan menjadi Rp61 tiliun.

Walaupun begitu, Menhan mengatakan, jumlah tersebut sudah naik bila dibanding tahun sebelumnya (Rp50-an triliun).

Fayakhun Andriadi yang tengah menuntaskan studi doktor ilmu politiknya di Universitas Indonesia (UI) ini menegaskan lagi, industri pertahanan dalam negeri harus diwujudkan, sehingga kemandirian Alutsista dan swasembadanya bisa terwujud.

“Belajar dari pengalaman pembuatan panser Anoa 6×6 di PT Pindad, bangsa ini mampu memproduksi dengan baik Alutsista yang tadinya digambarkan berteknologi canggih, dan impor jadi hal wajib dari negara-negara maju,” ujarnya.

Keenakan Impor Itulah sebabnya, kata Fayakhun Andriadi, terkesan ada perilaku keenakan impor Alutsista, yang dampak negatifnya tentu mematikan industri pertahanan dalam negeri.

“Cara-cara ini harus dihindari sekarang. Terlalu besar ‘capital flight’ dari anggaran pertahanan kita lari ke luar negeri, akibat kesalahan manajemen di masa lalu,” ujarnya.

Menghadapi pembiayaan tahun mendatang, menurut dia, dari Rp61 triliun, anggaran murni yang dialokasikan untuk Alutsista sekitar Rp12 triliun.

“Sisanya untuk rutin (termasuk gaji) dan pinjaman luar negeri untuk pembelian Alutsista sebesar Rp13 triliun,” ujarnya lagi.

Semua ini, menurut dia, harus dicermati. “Karena, pembelian Alutsista dengan pembiayaan pinjaman luar negeri akan digunakan untuk membeli Alutsista buatan luar negeri,” katanya.

Fayakhun Andriadi berpendapat dan ini dimintanya untuk terus disadar sepenuhnya oleh para pengambil kebijakan, uang tersebut akan “membayar jam kerja” anak bangsa lain.(ant/hrb)

Sumber: Investor Daily, Jumat, 10 Juni 2011 | 9:59

Baca Juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>