DPR Dukung Modernisasi Alutsista

JAKARTA (Suara Karya): DPR mendukung program pemerintah untuk modernisasi alat utama sistem senjata (alutsista). Karena itu, parlemen mendorong agar target 50 persen pengadaan hingga tahun 2019 harus tercapai. Hal itu antara lain, dilakukan dengan memaksimalkan pemberdayaan alutsista produksi dalam negeri.

Demikian dikemukakan anggota Komisi I DPR Fayakhun Andriadi (Fraksi Partai Golkar), Muzzammil Yusuf (Fraksi PKS) dan mantan anggota Komisi I DPR yang sekarang menjadi pengamat militer dan pertahanan Andreas H Pareira, di Jakarta, Jumat (3/2).

Fayakhun mengingatkan pemerintah dan TNI agar maksimal belanja alutsista dalam negeri. Langkah ini sebagai komitmen pemerintah untuk berpihak terhadap industri dalam negeri, sekaligus mewujudkan kemandirian alutsista.

Menilik rencana pemerintah membeli alutsista baru dan bekas dari luar negeri harus seimbang dengan pemberdayaan BUMNIS. Misalnya, membeli MTB Leopard dan T90 buatan Rusia. “Padahal, banyak negara tetangga kita sangat tertarik dengan alutsista produksi BUMNIS. Karena itu, kita juga harus menjadikan produksi dalam negeri sebagai prioritas,” katanya.

Dengan demikian, Fayakhun Andriadi berharap, Kemhan dan TNI harus lebih serius memberdayakan industri pertahanan dalam negeri, dengan semaksimal mungkin membelanjakan uang rakyat dari APBN itu untuk produk alutsista.

Muzammil juga berharap, target 50 persen pengadaan alustista dari industri strategis dalam negeri dapat tercapai melalui pemberdayaan Badan Usaha Milik Negeri Industri Srtategis, seperti Pindad, PT Dirgantara Indonsesia, PT PAL dan PT LEN. Sehingga, Indonesia tidak akan pernah lagi bergantung terhadap alutsista produksi luar negeri.

Menurut dia, pemberdayaan industri pertahanan dalam negeri harus maksimal. Menurut dia, semua pihak maupun isntansi pemerintah perlu sinergi dan kesadaran diri untuk memberi prioritas terhadap alutsista produksi dalam negeri.

“Keberpihakan pemerintah dan TNI kepada industri strategis dalam negeri harus tinggi. Karena banyak anak bangsa yang sudah mampu memproduksi alutsista,” katanya.

Ia menyontohkan pesawat intai yang dibutuhkan tidak perlu impor. Pasalnya, pesawat ini sudah mampu dibuat oleh BUMNIS atau perusahaan swasta dalam negeri dimana SDMnya adalah lulusan peguruan tinggi seperti ITB dan ITS. (Feber S)  

Sabtu, 4 Februari 2012

Baca Juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>