Fayakhun Andriadi: Politik Untuk Perubahan

Ditengah hingar bingarnya kasus korupsi yang melilit para politisi dan pejabat publik,  politik sebagai sebuah proses pengambilan keputusan publik demi kepentingan bersama justru dipertanyakan. Politisi, karena latar belakang itu, dipersepsikan secara negatif sebagai orang yang berusaha menduduki jabatan publik tertentu dan dengan segala cara menggunakan posisi itu untuk mendapatkan sebanyak mungkin bagi dirinya sendiri dan atau kelompoknya. Istilah politik kepentingan, politik transaksional dan politik untuk politik adalah terminologi yang nampak modern untuk mengatakan praktik purba homo homini lupus, atau untuk menggunakan juga terminologi politik, politik memangsa. Secara tegas Fayakhun Andriadi, politisi muda Partai Golkar yang kini berusia 42 tahun mendiferensiasi posisinya. Politik baginya, adalah proses mensejahterahkan bangsa, dan secara profesional memberikan kontribusi bagi kemaslahatan rakyat,  bukan berusaha mendapatkan apa  dari jabatan politis itu.

====

LIDER Edisi XII the star-1Ada sebuah premise sementara bahwa politisi atau pejabat publik yang amanah adalah orang yang sudah selesai dengan dirinya sendiri dan keluarganya. Artinya, dengan apa yang sudah ia miliki, ia tidak akan melakukan politik transaksional untuk memperkaya diri. Dan mungkin itu juga yang membuat politisi muda Golkar bernama Fayakhun Andriadi ini menjadi berbeda.

Sebelum terjun ke politik praktis dengan menjadi anggota DPR, Fayakhun lebih dikenal malang melintang pada dunia usaha. Ia tercatat sebagai Komisaris Utama PT Toykar (2008), Komisaris PT Bambu Indah Timur (2003-2008), Komisaris PT Mandiri Karya Indah Sejahtera (2000-2008), Direktur PT Krisdeka Asri Laras (1997-2002), dan lain-lain.

Dengan kecukupan materi yang sudah ia miliki di usia yang masih terhitung belia, ia tidak melakukan menuver politik untuk mencari lebih lagi bagi dirinya dan keluarga.

“ Di tahun 2004 omzet saya sudah Rp 200 milyar,” ujar anggota Dewan yang masuk Senayan tahun 2009 ini. Bahkan kepada LIDER ia bertutur, sesungguhnya wilayah politik adalah wilayah yang oleh ayahnya almaharum Hadi Tirto, pendiri Golakar di Jawa Tengah, harus dihindari.

“ Politik itu kejam. Kalian boleh sekolah setinggi tingginya, berbinis atau menjadi pegawai silahkan, tetapi jangan ke politik,” pesan ayahnya.

Dengan pesan sang ayah itu, ia terjun ke dunia bisnis dan berkpirah disitu hingga pada suatu saat suara hatinya berkata lain. Bagaimana kalau negara ini mengalami nasib yang sama dengan Yugoslavia? Pada pengamatannya ada pola yang mirip dengan kehancuran Uni Soviet yakni banyak konflik yang terjadi di daerah-daerah perbatasan.

“Kita ini ada jalur laut ke arah Timur, tengah dan Barat. Ke barat, dangkalan selat Sunda dan selat Malaka. Sedangkan arah ke tengah Palu dan arah ke Timur ke Papua. Nah, di situ kan banyak konflik. Jadi koq ada pola-pola baratnisasi di Indonesia, kalau dilihat secara geopolitik?,” tandanya.

“ Pertanyaan saya, kalau saya peduli politik, apa yang harus saya buat? Pertama-tama apa kendaraanya? Ya..partai politik. Karena perubahah itu hanya bisa dilakukan didalam sistem. Di luar sistem berlaku jargon anjing menggongong kafila berlalu,” lanjutnya.

Lider - fayakhun menyambangi konstituenDengan jejaring politik yang sudah dibangun ayahnya tentu bukan hal yang sulit baginya untuk masuk kedalam sistem politik dan meraih kekuasaan. Tetapi bukan itu kalkulasinya. Menjadi kepala ikan teri atau ekor  ikan hiu adalah pertimbangannya dalam menentukan pilihan kendaraan politik ketika ia memilih untuk  bergabung bersama DPP Golkar untuk divisi Informatika.

Masuk menjadi bagian dari sebuah partai besar tentu banyak tantangan, tetapi juga tempaan. Tetapi dalam politik tantangan dan tempaan itulah yang membuat seseorang menjadi the real polician.

“ Saya sudah memilih untuk terjun ke politik dan buat saya  point of no return,” ujarnya.

Kembali di tahun 2008 Theo Sambuaga menawarkan kesempatan kepadanya untuk  menjadi caleg dengan nomor urut 1 untuk daerah pemilihan Jakarta Pusat. Dalam perkembangannya keputusan rapat menempatkannya  pada nomor urut 2 untuk derah pemilihan Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan. Toh perubahan ini tidak membuatnya kecil hati.

Dan itu dibuktikannya ketika ia mampu mengalahkan pesaing nomor satunya dengan perbedaan jumlah suara yang terbilang signifikan, mengingat sulitnya mencapai quota suara yang dibutuhkan utuk satu kursi di Dewan pada saat itu.

fayakhun - priyo budi santoso - aburizal bakrie“ Saya ini kalau tidak ditantang, ya,,ngalah… tetapi kalau ditantang..nggak ada nglahnya,” ujar Kun, panggilan akrab mantan dosen ini.

Politisi Muda

Di tahun 2009, politisi muda adalah ‘benda’ langkah di DPR-RI. Dari 106 anggoira DPR dari Golkar hanya ada sembilan orang yang berusia dibawah 40 tahun. Dan tentu, itu bukan sekedar masalah umur. Perbedaan generasi melahirkan perbedaan kultur dan visi.

fayakhun bersama petinggi TNIMenyatukan perbedaan, baik internal partai maupun antar fraksi tentu bukan masalah yang mudah. Secara teoretis, sinergi adalah langkah yang paling efektif. Dalam bahasa Fayakhun, bagaimana yang tua memberi tauladan dan yang muda berada di depan. Yang tua memberi rambu-rambu dan yang mudah yang penuh energi diberi ruang.

Tetapi persoalan tidak sesederhana itu.  Dalam pengamatan Fayakhun, dibutuhkan karakter ketua fraksi yang kuat untuk memadukan semua unsur yang ada, baik yang ada didalam partai maupun antar fraksi. Dan disinilah kemampuan seseorang terlihat secara telanjang.

“ You gak bisa membandingkan si A dari partai ini dengan si B dari partai itu karena kualitasnya berbeda,” ujarnya.

Secara pribadi, kearifan menghadapi situasi dan tuntutan-tuntutan membuatnya merasa tidak cukup hanya sekedar pandai tetapi pandai-pandai.

“Terlalu mengedepankan ambisi pribadi dimarahin partai. Terlalu membela partai dimarahin konstituen. Ya…kita tidak harus sekedar pandai tetapi pandai-pandai,” ungkap Fayakhun.

Dalam berbagai kesempatan ia mengkritisi berbagai issue, yang dalam visinya, akan membuat bangsa ini mandiri. Sebut saja masalah silabus pendidikan, penguasaan asing atas produk hajat hidup orang banyak, dual citizenship dan persenjataan TNI  dan sejumlah issue strategis lainnya.

“ Mas….ternyata masuk di parlemen itu seperti masuk ke rimba. Kita seperti sedang melihat sebuah pertandingan sepak bola. Ada yang  jadi pemain, ada yang jadi penonton, ada yang jadi tukang sorak, ada yang jadi pelatih, ada yang jadi pemain cadangan dan ada yang jadi pemilik club. Mas bisa jadi anggota DPR 5 tahun dan  tidak pernah mewarnai apa-apa. Datang, absent, pembahasan, ya wes. Tapi, mas bisa menjadi anggota DPR dan bisa mewarnai petempuran-pertempuran. Tidak harus menang terus dalam pertemputan-pertempuran itu karena kita mau memenangkan perang.”

Sumber: Majalah LIDER edisi Februari 2014

Baca Juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>