Fayakhun Andriadi: GENERASI DIGITAL VERSUS ANALOG

Fayakhun Andriadi lider-1“Apa yang ada di benak Anda sekarang ini,” tanya LIDER kepada Fayakhun Andriadi beberapa waktu lalu. Jawabannya” kemandirian  bangsa, mas!” —–sebuah jawaban singkat yang pada saat yang sama adalah sebuah masalah multi dimensi.

Sebagai politisi dengan latar belakang IT dan lahir di era tahun 70-an, Fayakun terbilang masuk dalam generasi digital dan dengan demikian memiliki pola pikir berbeda dari generasi terdahulu yang tergolong generasi analog.

Dengan kemudahan yang dihadirkan oleh perkembangan teknologi informasi (IT) seharusnya generasi muda berpola pikir lebih maju demi membawa negara ini melangkah ketahap perkembangan selanjutnya dan tidak berputar-putar pada masalah yang itu-itu juga.

” ya, seharusnya generasi sekarang jauh lebih maju   karena eranya sudah digital. Ana-anak  kelahiran 70-an ke sini, itu anak-anak era digital yang sebelumnya analog. Seharusnya anak-anak digital ini pergaulannya nggak cuma baca Koran atau  ketemu di kelas. Dengan  jaringan facebook, twiter dan jejaring sosial lainnya, dia bisa punya teman di Eropa atau Amerika. Jadi  harusnya nilai-nilai universal ada di kepalanya. Tetapi yang terjadi  sekarang generasi mudanya setengah digital dan setengah analog. Jadi, di badannya muda, tapi cara pikirnya masih tua. Karena kalau digital betul, rasanya ada nilai-nilai universal yang membentuk pola pikirnya,” ujarnya.

dialog dengan masyarakat indonesia di  Luar Negeri - Lider 2Ia mencontohkan, dalam perjalanan dinas ke berbagai negara, ia bertemu anggota parlemen Inggris atau Jerman. Dari nama yang tertera di kartu nama, ia hanya menggoogle nama itu dan dalam hitungan menit ia sudah bisa mengetahui concern orang tersebut—apakah  ia peduli pada masalah lingkungan hidup, hak asasi perempuan atau teknologi. Dengan begitu menjadi mudah untuk mengkaitkan kepedulian dia dengan issue yang relevan didalam negeri dan komunikasi segera terbangun.

Dalam perspektif generasi digital, ia juga melihat bagaimana para politisi atau pembuat kebijakan menanggapi masalah kewarganegraan ganda ( dual citizenship) yang menurutnya mendesak untuk disikapi secara tepat.

Menurutnya, pola pikir umum yang ada sekarang adalah pola pikir generasi analog  warisan Orde Baru yang melihat masalah dual citizenship pertama-tama sebagai ancaman terhadap keamanan nasional ( national Security). Padahal, pada saat yang sama, sebagaimana ditunjukkan oleh negara-negara lain dengan Index Pembangunan Manusia (IPM) yang tinggi seperti Jepang , Cina, India dan Korea Selatan, masalah dual citizenship adalah peluang emas dalam rangka menciptakan ketahanan nasional ( national resilience) karena efek brain circulation.

“Persoalan pertama adalah masyarakat kita seringkali terjebak pada pemahaman bahwa efek brain circulation hanya dapat diraih bila para diaspora memutuskan untuk “pulang kampung”. Padahal, perkembangan teknologi informasi yang terjadi saat ini telah membuat sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin. Implementasi internet,electronic commerceelectronicdatainterchangevirtual office, dan telemedicine  telah menerobos batas-batas fisik antar negara (borderless),” tegasnya.

Efek brain circulation, dalam pengamatannya, secara sangat berhasil dituntujukan oleh kaum Cina Perantauan yang tersebar di berbagai negara di dunia.  Setelah sukses dan kaya di negara-negara dimana mereka bermukim, mereka memasukkan modal dan investasi di daratan China untuk manufaktur produk-produk unggulan yang mereka kembangkan.

“Salah satu hal yang saya perjuangkan adalah dual citizenship. Kita punya 8,5 juta anak keturunan Indonesia yang sudah warganegara luar. Ketika saya ke  Portugis, Brazil dan beberapa negara lain saya temukan warga negara yang berdarah Indonesia dan memiliki kecintaan yang begitu tinggi terhadap Indonesia.  Negara lain kan punya dual citenship.  Amerika punya, Inggris punya. Tentu  dual citizenship ini  harus ketat. Nggak      bisa orang bule  yang lama lama di sini, terus kita kasih dual citizenship. Nggak bisa,” tandasanya.

Lider-3 - dialog dengan masyarakat indonesia Luar NegeriLepas dari itu, setidaknya Fayakun melihat ada  empat keuntungan utama yang didapat Indonesia ketika dual citizenship diterapkan. Pertama, menambah pendapatan pajak.Ketika seseorang menjadi WNI, maka hak dan kewajibannya sebagai WNI berlaku, meski dia lebih banyak menghabiskan waktu di negara lain. Salah satu kewajiban yang mutlak adalah membayar pajak.Seperti disinggung di depan, warga diaspora yang super sukses di bidangnya tak terhitung jari. Mereka merupakan pembayar pajak potensial bagi Indonesia ketika kewarganegaraannya diakui. Apalagi posisi Indonesia yang berpenduduk lebih dari 260juta jiwa, adalah pasar yang sangat besar, sehingga potensi pemasukan Negara dari pajak, cukai dan PNBP menjadi Golden-Assetkeuangan Negara kita.

Kedua, Indonesia berhak mengklaim warga diaspora yang super sukses di bidangnya sebagai anak bangsa Indonesia. Ini akan menaikkan harga diri bangsa Indonesia karena memiliki banyak expertis yang diakui dunia Internasional.

Ketiga, memperluas jaringan (networkbusiness to business (b to b) Diaspora Indonesia yang berada di perantauan dengan warga Indonesia yang berada di dalam negeri. Akses finansial, pemasaran, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, pengolahan sumber daya alam, akan meningkat pesat yang pada akhirnya akan menaikkan nilai ekspor Indonesia ke seluruh pasar dunia, dan menjadikan Indonesia mandiri dalam memenuhi kebutuhan pasar domestiknya.

Keempat, Capital Flow-In. Para Diaspora yang berada di perantauan, khususnya yang berada di negara maju, akan melihat competitive advantage dan comparative advantage yang dimiliki Indonesia, dan mereka lebih mengenal Indonesia daripada orang asing, sehingga potensi masuknya modal untuk investasi di Indonesia menjadi signifikan.

“Sekarang adalah bagaimana kita melihat Diaspora Indonesia : apakah kita mampu menjadikan sebagai peluang emas  atau karena malas berpikir sehingga secara naif melihat sebagai beban dan ancaman? Kita saat ini hidup di abad informasi, abad 21. Segalanya telah terhubung (connected world) sehingga hidup berjalan di alam Global Village,” tegas Fayakun.

Brainware

Hidup dalam alam yang serba terhubung yang menjadikan dunia sebagai sebuah desa global karena kehadiran teknologi informasi mensyaratkan pemahaman yang menyeluruh terhadap nature dari era digital.

Lider- Fayakhun pesaswat AL“S1 saya bidang electrical engineering (hardware), S2 saya computer science (software) dan S3 saya brainware. Jadi, proses computer itu bisa berjalan kalau ada  hardware, software dan ada brainware. Ada yang mengoiperasikannya (manusianya). Anda boleh punya tools secanggih apa pun,   software secanggih apa pun , tapi kalau brainware tidak  ada, tidak jalan,” jelas Kun.

Mengacu pada data ia  mengingat kualitas penduduk Indonesia masih sangat memprihatinkan. Hal ini terbukti dengan data Human Development Index 2012, yang menempatkan Indonesia pada urutan 121 dari 187 negara yang ada di dunia. Maka dari itu aturan yang menghambat izin dwi kewarganegaraan bagi para diaspora menjadi layak dipertimbangkan untuk kemudian di amandemen.

Tentu, dual citizenship adalah salah satu opsi menaikan IPM Indonesia, tetapi persoalan mendasarnya adalah meningkatkan kualitas manusia Indonesia secara keseluruhan. Dan pada titik ini Fayakun menukik pada silabus pendidikan sebagai titik masuknya.

“ Mas, kayaknya kurikulim pendidikan kita ini ada yang salah. Nanti kalau kita berkuasa, yang harus hati-hati dengan masalah  kurikulum pendidikan ini  karena salah membentuk manusia, hasilnya fatal.   Koq nyolong dianggap biasa. Koq korupsi nggak malu. Koq tidak tepat waktu. Ini ada yang salah dari cara didikannya, termasuk pendidikan karakter, koq melahirkan manusia-manusia yang tidak berkarakter,” ujarnya.

Ia mencontohkan bagaimana sistem sekolah favorit dibentuk dengan standar tingkat kelulusan 100% dan didowngrade jika tidak mencapai standar itu. Akibatnya, para guru memberikan contekan kepada para murid untuk tetap menjaga status sekolah tersebut.

Ini masalah moral. Pendidikan tidak sebatas mencetak orang pintar tetapi pertama-tama adalah orang yang bermoral sebagai unsur utama ketahanan nasional. Moral sebagai warna negara dan moral sebagai manusia berakhlak.

“ Toh kalau moralnya bagus, akhlaknya mulia, kita nggak peduli agamanya apa, koq. Yang dicari dari semua agama cuma satu:  akhlak yang mulia. Saya banyak teman Islam, tapi nyolong. Sementara saya ada teman Hindu atau Katolik, tapi luar biasa Islami daripada orang Islam. Kalau mau  bikin orang Indonesia unggul,  didik yang benar, arahi yang benar, pasti jadi orang unggul. Kalau mau rusak, rusak  saja silabusnya, nati manusianya akan jadi kacau,” tegas Kun.

Sebagai politisi di Komisi I yang membidangi Pertahanan dan dalam kerangka berpikir generasi digital Fayakun juga mengingatkan ancaman yang hadir berkat kemajuan teknologi.

Lider 4 - kunjungan industri pertahanan Republik Ceko 2“Karena saya manusia digital saya tahu bahwa DNA sudah bisa dipetakan dan dapat dibuat senyawa kimia   yang berefek  kepada etnis tertentu, dan tidak berefek kepada etnis lainnya. Eek itu tidak terasa pada saat itu juga tetapi jika dikonsumsi secara terus menerus maka orang bisa menjadi pemarah dan pelupa. Bayangkan kalau kita menjadi bangsa pemarah dan pelupa, kan gila bangsa ini,” ujarnya.

Dalam tataran kebijakan, hal ini terkait dengan kebijakan impor yang tidak dicermati efek-efek turunannya. Impor beras, impor kedelai, impor daging dan semua impor lainnya. Perusahaan air minum dikuasai asing.

“ Saya heran manusia-manusia analog memahami ngak masalahnya. Kami, Komisi I sudah menyampaikannya tetapi biaya peralatan BIN hanya  Rp. 2,5 sampai 5  milyar pertahun. Harusnya BIN masuk ke departemen perdagangan, departemen perindustrian dan mengecek  yang impor-impor itu.  Jadi, bangsa ini kalau nggak mau dirusak oleh bangsa lain,  makanan dan minuman mesti produksi sendiri, pendidikannya mesti dijaga baik-baik,” ujarnya.

Dan sebagai politisi generasi digital pertanyaan pokoknya adalah: ada atau tidak political will yang membuat semua hardware dan software berfungsi membuat negara ini mandiri.**

 

Sumber: Majalah LIDER Edisi Februari 2014

Baca Juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>