Merdeka Adalah Mandiri

Renungan HUT RI ke-70

Dirgahayu HUT RI ke 70 600px

Oleh: Dr. Ir. Fayakhun Andriadi, M.Kom (Keua DPD Partai Golkar DKI Jakarta)

Merdeka berarti mandiri. Tak ada kemerdekaan tanpa kemandirian. Ketidakmandirian berarti ketergantungan, sama artinya dengan terjajah. Mandiri berarti bergantung pada diri sendiri, bukan pada sesuatu di luar diri sendiri. Kitalah yang menentukan segala hal terkait dengan diri kita. Begitu juga kemerdekaan. Makna kemerdekaan adalahlepas dari segala ikatan yang membatasi ruang gerak kebebasan kita. Keterbatasan itu artinya ketergantungan,ketidakmandirian.

Secara formil, Indonesia dinyatakan sebagai bangsa dan negara yang merdeka sejak 17 Agustus 1945. Tapi negeri ini baru dapat dikategorikan merdeka secara esensial, jika sudah mencapai tahap kemandirian sebagai sebuah negara-bangsa. Apakah negara kita sudah merdeka dalam pengertian yang esensial ini? Tolak ukurnya adalah kemandirian Indonesia. Jika kita sudah mandiri, bisa dipastikan sudah merdeka. Tanpa kemandirian, apalah artinya kemerdekaan kita.

Kemandirian jangan dipahami dalam paradigma yang sempit yaitu kesendirian (keterisolasian). Independensi (kemerdekaan atau kemandirian) bukan berarti ketidakbutuhan sebuah negara pada negara lain, melainkan ketidakbergantungan pada negara lain. Dalam kancah global seperti saat ini, mustahil sebuah negara bisa berdiri sendiri tanpa keterhubungan (relasi) dengan negara lain. Interdependensi adalah kunci jawaban masa depan.

Kemandirian adalah satu sikap yang mengutamakan kemampuan diri sendiri dalam mengatasi pelbagai masalah demi mencapai satu tujuan, tanpa menutup diri terhadap pelbagai kemungkinan kerjasama yang saling menguntungkan. Karena itu, sangat tidak tepat jika kemandirian bangsa dipahami sebagai hidup sendiri. Tidak membangun koneksi dengan negara lain.

Kemandirian adalah kemampuan untuk memberdayakan potensi yang dimiliki untuk menjadi negara yang kompetitif di kancah global. Interkoneksi tetap dijalin, tapi tidak dalam konteks bergantung pada negara lain. Networking tetap dirajut, tapi bukan dalam posisi menggantungkan nasib pada negara lain. Semua bentuk kerjasama dijalin secara setara, saling menguntungkan, dan adil. Inilah makna kemandirian dalam tata dunia di masa depan.

Kemandirian Multidimensi

Kemandirian Indonesia bisa ditinjau dari berbagai dimensi: politik, ekonomi, sosial-budaya, sains-teknologi, pertahanan-keamanan. Mandiri secara politik berarti tidak berada di bawah hegemoni atau dominasi politik negara lain. Kita bebas menentukan peta jalan (road map) politiknya secara bebas, sesuai dengan visi kebangsaan dan misi kenegaraan kita, tidak didikte oleh kepentingan politik negara lain.

Kemandirian politik Indonesia memiliki beberapa aspek: hubungan bilateral, regional, dan internasional. Mandiri secara politik mencakup ketiganya secara integral. Indonesia bebas menentukan mitra bilateral politik. Bebas berkiprah di ranah regional tanpa terikat pada beban politik tertentu. Dan bebas menentukan arah kebijakan politik internasional sesuai blueprint kenegaraan-kebangsaan kita: bebas-aktif. Bebas dari blok politik, tapi aktif menyemai perdamaian.

Kemandirian Indonesia secara ekonomi juga sama esensinya: tidak tergantung secara ekonomi pada negara lain. Secara teoritik, kemandirian ekonomi diartikan sebagai bangsa yang memiliki ketahanan ekonomi terhadap berbagai macam krisis dan tidak bergantung pada negara lain.

Kemandirian ekonomi kita akan mendorong kemandirian mental bangsa dan negara kita. Sebuah negara yang terdikte secara ekonomi, aspek politik dan sosial-budayanya kemungkinan besar juga akan terdikte. Karena itu, paket ekonomi sering dijadikan instrumen untuk melakukan intervensi politik terhadap sebuah negara. Ketika secara ekonomi Indonesia tergantung pada negara lain, sulit bagi untuk menghindar dari pengaruh (dikte) politik negara tersebut. Dijajah secara ekonomi berarti dijajah pula secara politik dan mental.   

Kemandirian ekonomi Indonesia meliputi banyak aspek: pangan, energi, keuangan, infrastruktur,  industri, dan lainnya. Mandiri secara ekonomi berarti ketidaktergantungan Indonesia pada negara lain dalam urusan pemenuhan pangan. Kita negara agraris. Seharusnya, potensi ini bisa turut memperkuat daya tawar ekonomi-politik kita di level bilateral, regional, dan global.

Di masa depan, pangan adalah super power. Krisis pangan menghantui masa depan beberapa negara kawasan. Idealnya: Indonesia menjadi salah satu negara dengan ketahanan pangan terkuat. Ketahanan pangan, secara otomatis akan membuat kita menjadi negara dengan ketahanan ekonomi-politik yang terkuat juga.

Sampai saat ini, ketahanan pangan belum terwujud. Malah sebaliknya: Indonesia tidak berdaulat secara pangan. Masih tergantung pada negara lain. Ibarat tikus mati dilumbung padi. Impor menguasai seluruh aspek pangan kita: beras, gula, bawang, cabai, garam, daging, dan lainnya. Hampir tak ada item pangan kita yang bebas impor. Salah satu contoh yang menggelikan, tempe tahu dikenal sebagai makanan asli Indonesia, tapi bahan baku tempe-tahu, yaitu kedelai, sampai sekarang sebagian besar masih diimpor. Indonesia dikenal sebagai pengimpor kedelai terbesar di dunia. Sungguh ironis.

Dimensi lain dari kemandirian ekonomi kita yang sangat penting adalah energi. Kekayaan energi kita melimpah tak terkira: minyak bumi, gas, emas, batu bara, nikel. Sumber daya alam ini, jika optimal pemanfaatan, pengelolaan dan pengolahannya, dapat menjadi instrumen vital kemandirian ekonomi kita.

Indonesia seharusnya bisa memaksimalkan potensi energi yang dimiliki. Tidak hanya yang tak terbarukan, tapi juga energi terbarukan dan alternatif, seperti gas dan nuklir. Dulu Indonesia menjadi negara OPEC (negara pengekspor minyak). Tapi sekarang Indonesia menjadi  negara importir minyak.

Kemandirian energi bisa tidak hanya bisa menjadi kunci kemandirian ekonomi, tapi juga kemandirian politik. Karena sekali lagi, di masa depan, dunia dihadapkan pada krisis energi. Negara yang berdaulat secara energi akan berdaulat secara politik. Sebaliknya: negara yang pasokan energinya tergantung pada kuota negara lain, otomatis akan dependen juga secara politik.

Inovasi dan Kreatifitas SDM

Tapi kita harus menyadari bahwa masa depan global akan mengalami transformasi. Sumber daya alam tidak akan lagi menjadi andalan utama. Di masa mendatang, kunci kemandirian bangsa-negara akan bergeser dari sumber daya alam ke sumber daya manusia. “Energi” utama sebuah negara-bangsa adalah sumber daya manusianya. Kualitas manusia Indonesia akan menentukan daya tahan negara kita. Ujungnya: menentukan kemandirian bangsa-negara ini.

Di era dimana kualitas manusia Indonesia menjadi penentu, inovasi dan kreatifitas adalah prasyarat. Kompetisi global akan semakin ketat. Daya saing Indonesia tidak ditentukan oleh seberapa banyak sumber daya alam yang dimiliki dan bisa diolah. Tapi sejauh mana manusia Indonesia bisa menciptakan kreasi dan inovasi yang membuat Indonesia terdepan dalam berbagai aspek. Sumber daya alama “hanyalah” penunjang dari kapasitas kreasi dan kapabilitas inovasi manusia Indonesia. Karena di masa mendatang, dunia akan semakin tidak menggantungkan diri pada sumber daya nonkreasi dan noninovasi.

Karena kualitas manusia Indonesia semakin vital, maka pembangunan manusia harus menjadi prioritas. Dalam hal kuantitas, kita sudah menang satu langkah. Populasi yang sangat besar bisa menjadi andalan serius. Dalam hal potensi populasi, kita bisa setara dengan negara-negara besar di dunia: Cina, India, Amerika Serikat. Tapi resikonya: jika tak berkualitas, populasi yang banyak justru jadi kendala dan beban berat bagi kemajuan bangsa-negara kita ini. Negara kita bisa ditarik mundur oleh beban populasi. Jadi, hanya ada satu jalan: menciptakan manusia yang berkualitas.

Pendidikan harus mendapat perhatian serius. Paradigma pendidikan kita mutlak diarahkan pada lahirnya manusia yang kreatif dan inovatif. Berdaya saing global, namun memiliki citarasa nasional.  Ketika berkiprah di level global, manusia Indonesia harus bertopang pada jati diri dan karakter keindonesiannnya. Ini modal utama untuk membawa Indonesia ke pentas global.

Pembangunan manusia tidak bisa dilakukan secara instan. Ini proyek jangka panjang yang harus dijaga tahapan-tahapannya. Tak boleh terputus. Korea Selatan contohnya, baru bisa “memanen buah” pembangunan manusianya setelah hampir empat dekade “menanam”. Kini, Korea Selatan masuk di jajaran negara dengan kualitas manusia yang tinggi: kreatif dan inovatif, tapi tetap membawa karakter bangsa Korea Selatan yang khas. Potensi sumber daya manusia Indonesia sebenarnya jauh diatas Korea Selatan. Namun sayangnya, “pohon”pembangunan manusia Indonesia tidak digarap serius dan tidak berkelanjutan. Cetak birunya selalu saja berubah-ubah dari satu periode pemerintahan ke pemerintahan yang selanjutnya. Akibatnya: hasilnya tidak utuh, alias parsial.

Desain pendidikan pembangunan manusia Indonesia terkait erat dengan soal sains-teknologi. Penguasaan dua aspek ini mutlak. Ke depan, era semakin terdigitalisasi. Seluruh aspek kehidupan tidak akan bisa menghindar dari perangkat digital. Pembangunan manusia Indonesia harus diorientasikan pada visi ini. Kemampuan sains-teknologi Indonesia harus diarahkan pada visi digital. Dalam bahasa yang sederhana, manusia Indonesia harus “dicerdaskan secara digital”. Sehingga tidak gagap berkompetisi di kancah digital.

Pemerintah hendaknya memberikan perhatian serius pada proyek digitalisasi ini. Sisi infrastruktur maupun suprastruktur digital harus dipersiapkan. Secara paradigma, manusia Indonesia disiapkan menghadapi trenddigitalisasi. Dan semua itu bisa berjalan sukses, jika sarana-prasarana (infrastruktur) memadai. Korea Selatan bisa menjadi contoh lagi. Dalam hal digitalisasi, Korea Selatan salah satu yang paling maju dan siap menyambut era digital. Ke depan, hanya negara yang siap di ajang digital yang dapat berkompetisi secara ketat. Mau tidak mau, Indonesia juga. Jika tidak siap secara digital, ada dua kemungkinan yang dapat menimpa negara kita ini: terisolir dari pergaulan global yang serba digital atau dijajah (kembali). Namun kali ini, dijajah secara digital.

Merdeka artinya mandiri. Mandiri dalam hal apapun. Tapi bukan berarti menutup diri dari interaksi global, karena hal ini mustahil di tengah-tengah dunia yang semakin menjadi “global village”. Tapi mandiri dalam arti berdaya saing global, berakarakter nasional, dan bekerjasama secara aktif-setara dengan negara lain. Inilah makna kemerdekaan yang sebenarnya. Kemerdekaan yang mandiri.  –FA–

Baca Juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>