Cliktivism dan Masa Depan Demokrasi Indonesia

Ilustrasi era digital

Tempo edisi 28 November – 4 Desember 2016 memberitakan Perang Digital antara para pendukung Cagub Jakarta. Perang digital dapat dikatakan sebagai manifestasi maksimal dari partisipasi politik digital. Partisipasi digital adalah bentuk partisipasi politik yang mudah, efisien dengan dampak cukup luas. Partisipasi sebatas gerakan jari. Cliktivism

Kenapa disebut partisipasi politik sebatas gerakan jari? Karena dengan gerakan sederhana jari, kita dapat membagi berita, foto, video yang mendukung pandangan politik atau tokoh politik tertentu. Termasuk juga yang menjatuhkan.

Perang digital kerap tak berbasis fakta. Wajah penuh polesan. Prestasi bisa klaim sana-sini. Perang digital adalah pertarungan hyper-realitas. Mempertandingkan sesuatu yang tidak ada wujudnya dalam realita.

Baudrillard tahun 1983 melalui karya monumentalnya Simulations menjelaskan bahwa realitas simulasi yang dihasilkan teknologi mampu mengalahkan realitas. Realitas yang dipoles citra lebih meyakinkan daripada realitas yang apa adanya. Hyper-realitas menjadi lebih dipercaya daripada realitas.

Persoalan dengan hyper-realitas adalah karena ia bisa diproduksi tanpa batas. Lawan hyper-realitas hanya satu, yaitu realitas itu sendiri.

Bagaimana mengatasi situasi dimana kita dikepung oleh hyper-realitas? Jawabnya adalah seperti istilah anak muda sekarang, mesti banyakin piknik. Realitas harus kita lihat langsung, kita rasakan dengan panca indra, kita sesapi aromanya. Tak layak memasrahkan asupan informasi pada referensi dari tangan ke sekian di media sosial. Kita perlu untuk bicara dengan sesama warga secara langsung. Melihat perkembangan pembangunan kota dan negeri tercinta ini serta masih banyak lagi hal yang lain.

Kembali berbicara dalam konteks Pilgub Jakarta. Masyarakat pemilih tak akan dapat ditutup matanya oleh bentangan jalur fly-over , MRT, Taman Ramah Anak, rusun layak huni, banjir yang semakin cepat surut dsb. Hal-hal ini adalah realitas yang tak terbantahkan.

Masa depan demokrasi jelas membutuhkan partisipasi politik yang lebih bertanggung jawab. Dalam hal ini kita harus memastikan bahwa masyarakat memperoleh informasi yang berimbang. Dalam konteks media sosial, berimbang yang dimaksud adalah masyarakat harus kita ajak untuk memahami realitas dan perkembangan di masyarakat. Tidak semata mengonsumsi hyper-realitas tanpa batas.

Dengan itu partisipasi politik yang dilakukan dapat menjadi lebih rasional dan berkesadaran. Bukti nyata harus lebih menjadi bahan pertimbangan dalam bertindak, daripada hyper-realitas semata. Setuju?

Baca Juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>