Gus Mus, Sikap Memaafkan dan Kita

gus-mus-terbaru

 

Fayakhun.Com – Minggu lalu media massa diramaikan pemberitaan tentang seorang netizen (PW) yang menghina ulama KH Mustofa Bisri (Gus Mus). Berawal dari tweet Gus Mus yang berpendapat bahwa sholat Jumat di jalan raya adalah bid’ah, “1. Aku dengar kabar di ibu kota akan ada Jum’atan di jalan raya. Mudah2an tidak benar.” Dilanjutkan “2. Kalau benar, wah dalam sejarah Islam sejak zaman Rasulullah SAW baru kali ini ada BID’AH sedemikian besar. Dunia Islam pasti heran.”

PW pemilik akun @panduwijaya ini kemudian membuat balasan atas tweet tersebut, “Dulu gak ada aspal gus di padang pasir, wahyu pertama tentang shalat jumat jga saat Rasulullah hijrah ke madinah. Bid’ah Ndasmu!” Tweet balasan tersebut mengundang reaksi keras dan kemarahan dari santri Gus Mus dan netizen.

Yang sungguh menarik perhatian kita adalah reaksi Gus Mus yang ditulis dalam status facebook-nya. Beliau menulis, “Kalau ada yang menghina atau merendahkanmu janganlah buru-buru emosi dan marah. Siapa tahu dia memang digerakkan Allah untuk mencoba kesabaran kita. Bersyukurlah bahwa bukan kita yang dijadikan cobaan. :-)”

Rindu kita akan kehalusan budi dan sikap bijaksana yang ditunjukkan ulama sekaliber Gus Mus. Dalam khazanah sejarah Islam tercatat begitu banyak perang yang terjadi. Catatan ini yang kemudian digunakan oleh para ideolog Barat untuk mencap Islam sebagai agama yang ditegakkan dengan pedang. Pemuka Evangelis Franklin Graham pada akhir 2014, menyatakan bahwa, “Islam tidak pernah dibajak kelompok radikal, karena apa yang kita lihat, itulah Islam…. Islam adalah agama perang.”

Kita yang tinggal di negara dengan penduduk beragama Islam tahu betul bahwa pernyataan Graham adalah tidak berdasar. Sejak merdeka, kita relatif hidup damai. Bukannya tidak ada konflik. Namun apabila benar Islam adalah agama perang, seharusnya konflik dan perang menjadi keseharian kita. Mungkin kita malah bisa menciptakan tagline, “Indonesia: Tiada Hari Tanpa Konflik”.

Nyatanya, Indonesia menjadi contoh keberhasilan pengelolaan keragaman di dunia. Pada tanggal 22 Oktober 2015, Ratu Denmark Margrethe II dan suaminya Pangeran Consort melakukan kunjungan kenegaraan ke Indonesia. Salah satu alasan kunjungannya adalah ingin melihat langsung pengelolaan keragaman di Indonesia. Betapa kita diakui dunia….

Keberhasilan di atas tak dapat dipisahkan dari kontribusi ulama dengan pemikiran toleran seperti Gus Mus. Ulama seperti beliau memberikan contoh nyata bahwa nilai keislaman dalam hubungan antar manusia adalah kelapangan dada dan sikap memaafkan. Nilai-nilai yang sesungguhnya bersifat universal dan diyakini agama-agama lain di dunia.

Sungguh, sebagai bangsa, kita perlu menguatkan diri dengan nilai luhur dan akhlak mulia seperti ini. Tugas kita membangun bangsa masih banyak.

Bagian penting dari nilai dan akhlak mulia adalah tidak boleh berhenti semata pada pemahaman. Harus dimulai dari tindakan kita pribadi dalam menjalankan nilai luhur dan akhlak yang mulia. Dengan tindakan nyata, maka Indonesia akan jauh lebih maju, produktif dan energinya tidak habis hanya untuk konflik internal.

Salam

Baca Juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>